Dengan Cinta,
Kutinggalkan Jejakku di Sini......
Selasa, 17 Januari 2012
Angkutan Kota di Balikpapan
Persaingan angkutan kota di Balikpapan tampaknya ketat, sehingga angkot no. 5 ini sampai memasang TV layar lebar untuk menarik perhatian penumpang.
Senin, 11 Juli 2011
Kau dan Aku
Sayangku,
Kau tak seperti Yusuf.
Tak apa.
Aku juga bukan Zulaiha.
Cintaku,
Kau tak mirip Muhammad.
Tentu saja,
karena aku bukan Khadijah.
Kita mungkin bukan pasangan sempurna.
Biar saja.
Yang terpenting bagi kita,
kau tepat bagiku
dan aku tepat bagimu.
Itu saja.
I love you.....
Kau tak seperti Yusuf.
Tak apa.
Aku juga bukan Zulaiha.
Cintaku,
Kau tak mirip Muhammad.
Tentu saja,
karena aku bukan Khadijah.
Kita mungkin bukan pasangan sempurna.
Biar saja.
Yang terpenting bagi kita,
kau tepat bagiku
dan aku tepat bagimu.
Itu saja.
I love you.....
Selasa, 26 April 2011
Antara Facebook, Pertemanan, dan Aku
“Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium bau wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap“. (HR.Bukhari & Muslim).
*******************

"Facebookmu apa?"
"Punya Facebook, nggak?"
"Add aku dong. Facebookku ........"
Pertanyaan-pertanyaan di atas mulai sering sekali terdengar di sekitar kita. Tampaknya selain nomor telepon dan alamat rumah, alamat facebook menjadi keharusan. Beberapa orang bahkan berusaha menambah daftar teman sebanyak-banyaknya dari yang sudah kenal sampai yang belum pernah kenal sama sekali, hingga memunculkan berbagai tips untuk memperbanyak teman mayanya.
Apa pentingnya punya banyak teman di Facebook?
Mempunyai banyak teman di Facebook bisa membawa keuntungan, sekaligus kerugian. Mungkin akan ada yang berkomentar:
"Punya teman kok mikirin untung rugi?"
"Namanya berteman ya bukan cuma bagus-bagusnya aja dong!"
Silakan saja. Semua bebas berpendapat, tapi ada baiknya mempertimbangkannya. Berikut beberapa keuntungan dan kerugian Facebook.
Keuntungan
Banyak teman, banyak rezeki. Punya banyak teman memperluas jaringan yang kita miliki sehingga memperbesar kemungkinan rezeki yang kita dapat. Rezeki bisa meliputi materi, kesempatan, ilmu, jodoh dan sebagainya.
Menjalin kembali silaturahmi yang terputus. Facebook memungkinkan kita untuk menelusuri kembali jejak-jejak teman-teman yang sudah lama tidak pernah berhubungan.
Ajang diskusi. Facebook memudahkan kita untuk berdiskusi dalam berbagai topik dan di berbagai komunitas. Tak perlu datang ke suatu tempat dan hanya dengan menekan tombol-tombol, maka diskusi pun mengalir.
Koordinasi massa untuk tujuan tertentu. Facebook memudahkan kita untuk mengumpulkan suara atau apapun untuk sebuah tujuan. Contohnya: koin untuk Prita & Bilqis dan Kasus Bibit & Candra.
Kerugian
Selain keuntungan di atas, tentu saja Facebook memiliki banyak kerugian. Seperti pisau bermata dua, bisa menguntungkan sekaligus membahayakan. Bergantung pada penggunanya.
Boros waktu. Semakin banyak teman kita di Facebook, semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk membaca posting-posting teman-teman.
Posting penting terlewatkan. Membaca posting teman-teman di Facebook bisa menghabiskan banyak waktu. Semakin banyak teman, maka semakin banyak posting dan semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk membacanya bahkan kadang-kadang tak sempat membaca semuanya. Hal ini memungkinkan tidak terbacanya posting-posting yang penting.
Memperbesar kemungkinan perselingkuhan dan perceraian. Di beberapa artikel yang sempat saya baca, survey di Australia dan Amerika Serikat menyatakan bahwa semakin meningkatnya angka perceraian diakibatkan oleh Facebook. Di Indonesia kejadian seperti ini juga sudah mulai marak.
Memperbesar peluang terjadinya tindak kejahatan. Informasi-informasi pribadi yang mudah di akses dan tidak selektifnya pemilihan teman-teman di Facebook, membuat kesempatan melakukan berbagai kejahatan menjadi lebih besar. Kasus-kasus kejahatan yang berawal dari Facebook banyak diberitakan di berbagai media. Seperti posting liburan yang menyebabkan perampokan karena rumah sedang kosong, kasus Selly Yustiawati dan sebagainya.
Bagaimana pertemananku di Facebook?
Mengapa aku perlu Facebook?
Saat pertama kali Facebook diluncurkan, aku bertekad untuk tidak bersentuhan dengannya. Bagiku saat itu, Facebook cuma buat ngobrol-ngobrol nggak jelas. Aku masih lebih suka milis. Namun saat seorang teman di milis yang aku ikuti membuat kelompok diskusi di Facebook, terpaksalah aku buat akun di Facebook karena aku membutuhkannya.
Teman-temanku di Facebook tidak banyak dan memang itu yang kuinginkan. Bagiku, terlalu banyak teman hanya akan mengurangi fokus pada ilmu, informasi dan pengalaman yang benar-benar aku butuhkan. Sampai saat ini teman Facebookku hanya berkisar 100an orang. Sebagian besar dari mereka adalah teman-teman dengan interest yang sama. Teman sekolah dan kuliah atau teman lain hanya beberapa, saudara juga hanya beberapa. Itu pun karena mereka yang mengajak. Bahkan dengan adik-adik kandungku pun aku tidak berteman. Kami berempat memang punya interest yang berbeda.
Menghentikan pertemanan.
Sebagai seorang ibu rumah tangga dengan anak yang sangat aktif dan tidak suka menggunakan jasa asisten rumah tangga, 24 jam terasa sedikit. Dengan waktu yang sedikit itu jika diisi dengan membaca posting-posting yang tidak bermanfaat, sayang sekali. Atas dasar itu, ada beberapa teman yang terpaksa aku hapus dari daftar teman atau aku sembunyikan posting-postingnya. Biasanya teman yang terlalu sering menulis status negatif seperti selalu mengeluh akan dengan segera aku hapus. Hidup terlalu indah untuk diisi berbagai keluhan. Selain itu, teman yang terlalu sering posting dagang padahal alamat facebooknya personal juga akan aku hapus.
Jadi, maaf jika kuputuskan pertemanan kita. Aku tetap akan berteman di dunia nyata.
*******************

"Facebookmu apa?"
"Punya Facebook, nggak?"
"Add aku dong. Facebookku ........"
Pertanyaan-pertanyaan di atas mulai sering sekali terdengar di sekitar kita. Tampaknya selain nomor telepon dan alamat rumah, alamat facebook menjadi keharusan. Beberapa orang bahkan berusaha menambah daftar teman sebanyak-banyaknya dari yang sudah kenal sampai yang belum pernah kenal sama sekali, hingga memunculkan berbagai tips untuk memperbanyak teman mayanya.
Apa pentingnya punya banyak teman di Facebook?
Mempunyai banyak teman di Facebook bisa membawa keuntungan, sekaligus kerugian. Mungkin akan ada yang berkomentar:
"Punya teman kok mikirin untung rugi?"
"Namanya berteman ya bukan cuma bagus-bagusnya aja dong!"
Silakan saja. Semua bebas berpendapat, tapi ada baiknya mempertimbangkannya. Berikut beberapa keuntungan dan kerugian Facebook.
Keuntungan
Banyak teman, banyak rezeki. Punya banyak teman memperluas jaringan yang kita miliki sehingga memperbesar kemungkinan rezeki yang kita dapat. Rezeki bisa meliputi materi, kesempatan, ilmu, jodoh dan sebagainya.
Menjalin kembali silaturahmi yang terputus. Facebook memungkinkan kita untuk menelusuri kembali jejak-jejak teman-teman yang sudah lama tidak pernah berhubungan.
Ajang diskusi. Facebook memudahkan kita untuk berdiskusi dalam berbagai topik dan di berbagai komunitas. Tak perlu datang ke suatu tempat dan hanya dengan menekan tombol-tombol, maka diskusi pun mengalir.
Koordinasi massa untuk tujuan tertentu. Facebook memudahkan kita untuk mengumpulkan suara atau apapun untuk sebuah tujuan. Contohnya: koin untuk Prita & Bilqis dan Kasus Bibit & Candra.
Kerugian
Selain keuntungan di atas, tentu saja Facebook memiliki banyak kerugian. Seperti pisau bermata dua, bisa menguntungkan sekaligus membahayakan. Bergantung pada penggunanya.
Boros waktu. Semakin banyak teman kita di Facebook, semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk membaca posting-posting teman-teman.
Posting penting terlewatkan. Membaca posting teman-teman di Facebook bisa menghabiskan banyak waktu. Semakin banyak teman, maka semakin banyak posting dan semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk membacanya bahkan kadang-kadang tak sempat membaca semuanya. Hal ini memungkinkan tidak terbacanya posting-posting yang penting.
Memperbesar kemungkinan perselingkuhan dan perceraian. Di beberapa artikel yang sempat saya baca, survey di Australia dan Amerika Serikat menyatakan bahwa semakin meningkatnya angka perceraian diakibatkan oleh Facebook. Di Indonesia kejadian seperti ini juga sudah mulai marak.
Memperbesar peluang terjadinya tindak kejahatan. Informasi-informasi pribadi yang mudah di akses dan tidak selektifnya pemilihan teman-teman di Facebook, membuat kesempatan melakukan berbagai kejahatan menjadi lebih besar. Kasus-kasus kejahatan yang berawal dari Facebook banyak diberitakan di berbagai media. Seperti posting liburan yang menyebabkan perampokan karena rumah sedang kosong, kasus Selly Yustiawati dan sebagainya.
Bagaimana pertemananku di Facebook?
Mengapa aku perlu Facebook?
Saat pertama kali Facebook diluncurkan, aku bertekad untuk tidak bersentuhan dengannya. Bagiku saat itu, Facebook cuma buat ngobrol-ngobrol nggak jelas. Aku masih lebih suka milis. Namun saat seorang teman di milis yang aku ikuti membuat kelompok diskusi di Facebook, terpaksalah aku buat akun di Facebook karena aku membutuhkannya.
Teman-temanku di Facebook tidak banyak dan memang itu yang kuinginkan. Bagiku, terlalu banyak teman hanya akan mengurangi fokus pada ilmu, informasi dan pengalaman yang benar-benar aku butuhkan. Sampai saat ini teman Facebookku hanya berkisar 100an orang. Sebagian besar dari mereka adalah teman-teman dengan interest yang sama. Teman sekolah dan kuliah atau teman lain hanya beberapa, saudara juga hanya beberapa. Itu pun karena mereka yang mengajak. Bahkan dengan adik-adik kandungku pun aku tidak berteman. Kami berempat memang punya interest yang berbeda.
Menghentikan pertemanan.
Sebagai seorang ibu rumah tangga dengan anak yang sangat aktif dan tidak suka menggunakan jasa asisten rumah tangga, 24 jam terasa sedikit. Dengan waktu yang sedikit itu jika diisi dengan membaca posting-posting yang tidak bermanfaat, sayang sekali. Atas dasar itu, ada beberapa teman yang terpaksa aku hapus dari daftar teman atau aku sembunyikan posting-postingnya. Biasanya teman yang terlalu sering menulis status negatif seperti selalu mengeluh akan dengan segera aku hapus. Hidup terlalu indah untuk diisi berbagai keluhan. Selain itu, teman yang terlalu sering posting dagang padahal alamat facebooknya personal juga akan aku hapus.
Jadi, maaf jika kuputuskan pertemanan kita. Aku tetap akan berteman di dunia nyata.
Selasa, 24 November 2009
Ketika Bunda Nggak Asyik Lagi
Saya dan keluarga tinggal di sebuah gang tak bernama di sisi sebuah jalan raya yang ramai. Di mulut gang sebelah kiri adalah sebuah mini market yang merangkap rumah tinggal yang memanjang ke belakang dan di kelilingi tembok tinggi. Di mulut gang sebelah kanan adalah sebuah toko alat tulis dan jasa fotokopi yang pemilik bangunannya tinggal tepat di belakangnya. Pemilik bangunan kios yang disewakan itu juga pemilik rumah kontrakan yang saya tempati.
Di dalam gang, selain tempat tinggal saya hanya ada sebuah rumah lagi yang dihuni oleh sebuah keluarga dengan tiga generasi di dalamnya, yaitu sepasang kakek nenek, suami istri dan dua orang anaknya. Anak pertama laki-laki dan sudah kelas dua sekolah dasar sedangkan anak kedua mereka perempuan dan usianya tiga bulan lebih tua dari anak saya.
Posisi rumah saya, yang walaupun dalam gang tetapi dekat dengan sebuah jalan raya yang ramai, memudahkan saya untuk membuka usaha. Memang usaha saya tidak terlalu ramai tapi karena saya menjadi agen produk muslimah untuk wilayah kota kami, jadi para reseller tetap datang ke tempat saya.
Menjelang dan ketika Ramadhan adalah saat-saat yang sangat sibuk. Reseller lama dan baru bergantian untuk kulakan. Meskipun reseller tidak datang setiap hari, tapi anak saya (3 tahun) merasa perhatian untuknya berkurang. Bundanya menjadi jarang bermain bersamanya terutama jika sedang melayani reseller.
Di tengah kesibukan saya, ia bermain sendiri sambil sesekali berusaha menyela kesibukan saya sampai akhirnya ia menjadi bosan. Anak saya kemudian memilih bermain dengan anak tetangga tanpa pengawasan dari saya. Ia begitu menikmati saat bermainnya.
Di sinilah semuanya berawal, saya mendapati anak saya mulai berperilaku berbeda dari sebelumnya dan sayangnya menjadi lebih buruk. Hati saya teriris dan gusar melihatnya seperti itu. Rasanya saya ingin marah, tapi pada siapa? Pada tetangga yang mendidik anaknya secara berbeda dengan kami? Atau pada anak-anak mereka yang mencontohkan perilaku-perilaku buruk itu? Tentu saja tidak. Apapun yang terjadi pada anak, tetap orangtualah yang pertama kali harus bercermin.
Saya berusaha untuk mengkoreksi diri. Sekilas kesalahan saya ‘hanya’ lebih sibuk dari biasanya, tapi setelah saya urai satu per satu tampaklah berbaris kesalahan parenting yang saya lakukan.
1. Berbohong kecil dan sering.
Ketika saya melayani reseller dan saat yang bersamaan anak saya mengajak main, saya berkata,”Sebentar ya,Nak. Bunda masih kerja.”
Di mana letak bohong kecilnya?
Saya memang bekerja dan menurut saya hanya sebentar, tapi bisa jadi bagi anak adalah waktu yang tidak sebentar. Kesimpulan anak saya: Bundanya berbohong.
2. Menekankan pada hal-hal yang salah.
Fokus melayani reseller membuat saya tidak memperhatikan anak saya yang asyik bermain bersama temannya di halaman. Saya tidak memuji kerukunan mereka bermain, tetapi ketika ia dan temannya berebut mainan, salah satu dari mereka memukul atau perilaku buruk lainnya, saya segera bereaksi menengahi mereka.
Di mana inti kesalahannya?
Anak saya belajar bahwa jika ia ingin diperhatikan oleh Bundanya, maka lakukanlah hal buruk.
3. Mengharap perubahan instan.
Kegusaran saya melihat perilaku anak yang meniru perilaku buruk anak tetangga membuat saya sedikit panik dan berharap anak saya kembali seperti sebelumnya. Saya berusaha memintanya untuk segera meninggalkan perilaku-perilaku buruk itu.
Akibatnya?
Ia justru seolah menggoda saya dengan mengulang-ulang perilaku buruk itu agar Bundanya bereaksi.
Berdasarkan kesalahan-kesalahan saya itu, akhirnya saya berusaha menyelesaikan masalah perilaku buruk anak saya pelan-pelan. Apa yang saya lakukan:
1. Menemani anak saya bermain dengan temannya.
Jika mereka rukun, saya berusaha memuji. Jika mereka melakukan sesuatu yang buruk, saya berusaha memberikan arahan.
2. Menjadi teman main yang lebih menyenangkan bagi anak.
Secara teori, menjadi teman bermain anak adalah mudah. Tetapi bisakah kita benar-benar menyatu pada permainannya? Benar-benar menjiwai jadi seorang anak kecil lagi dan konsentrasi penuh pada permainan. Singkirkan dulu pikiran tentang tugas-tugas rumah tangga dan bisnis.
3. Menjadi lebih efisien dan efektif.
Ibu adalah manajer keluarga dengan banyak profesi menjadi satu didalamnya. Menjadi teman main anak hanyalah salah satu kegiatan yang harus dilakukan di antara 24 jam yang kita miliki. Kita tidak bisa meminta injury time jika salah me-manage-nya. So, be more efficient and effective!
Nb:
Alhamdulillah, anak saya sedikit demi sedikit mulai mengurangi perilaku buruknya. Mesti lebih sabar nih, karena ini bukan pekerjaan instan. Tampaknya butuh waktu berbulan-bulan.
Di dalam gang, selain tempat tinggal saya hanya ada sebuah rumah lagi yang dihuni oleh sebuah keluarga dengan tiga generasi di dalamnya, yaitu sepasang kakek nenek, suami istri dan dua orang anaknya. Anak pertama laki-laki dan sudah kelas dua sekolah dasar sedangkan anak kedua mereka perempuan dan usianya tiga bulan lebih tua dari anak saya.
Posisi rumah saya, yang walaupun dalam gang tetapi dekat dengan sebuah jalan raya yang ramai, memudahkan saya untuk membuka usaha. Memang usaha saya tidak terlalu ramai tapi karena saya menjadi agen produk muslimah untuk wilayah kota kami, jadi para reseller tetap datang ke tempat saya.
Menjelang dan ketika Ramadhan adalah saat-saat yang sangat sibuk. Reseller lama dan baru bergantian untuk kulakan. Meskipun reseller tidak datang setiap hari, tapi anak saya (3 tahun) merasa perhatian untuknya berkurang. Bundanya menjadi jarang bermain bersamanya terutama jika sedang melayani reseller.
Di tengah kesibukan saya, ia bermain sendiri sambil sesekali berusaha menyela kesibukan saya sampai akhirnya ia menjadi bosan. Anak saya kemudian memilih bermain dengan anak tetangga tanpa pengawasan dari saya. Ia begitu menikmati saat bermainnya.
Di sinilah semuanya berawal, saya mendapati anak saya mulai berperilaku berbeda dari sebelumnya dan sayangnya menjadi lebih buruk. Hati saya teriris dan gusar melihatnya seperti itu. Rasanya saya ingin marah, tapi pada siapa? Pada tetangga yang mendidik anaknya secara berbeda dengan kami? Atau pada anak-anak mereka yang mencontohkan perilaku-perilaku buruk itu? Tentu saja tidak. Apapun yang terjadi pada anak, tetap orangtualah yang pertama kali harus bercermin.
Saya berusaha untuk mengkoreksi diri. Sekilas kesalahan saya ‘hanya’ lebih sibuk dari biasanya, tapi setelah saya urai satu per satu tampaklah berbaris kesalahan parenting yang saya lakukan.
1. Berbohong kecil dan sering.
Ketika saya melayani reseller dan saat yang bersamaan anak saya mengajak main, saya berkata,”Sebentar ya,Nak. Bunda masih kerja.”
Di mana letak bohong kecilnya?
Saya memang bekerja dan menurut saya hanya sebentar, tapi bisa jadi bagi anak adalah waktu yang tidak sebentar. Kesimpulan anak saya: Bundanya berbohong.
2. Menekankan pada hal-hal yang salah.
Fokus melayani reseller membuat saya tidak memperhatikan anak saya yang asyik bermain bersama temannya di halaman. Saya tidak memuji kerukunan mereka bermain, tetapi ketika ia dan temannya berebut mainan, salah satu dari mereka memukul atau perilaku buruk lainnya, saya segera bereaksi menengahi mereka.
Di mana inti kesalahannya?
Anak saya belajar bahwa jika ia ingin diperhatikan oleh Bundanya, maka lakukanlah hal buruk.
3. Mengharap perubahan instan.
Kegusaran saya melihat perilaku anak yang meniru perilaku buruk anak tetangga membuat saya sedikit panik dan berharap anak saya kembali seperti sebelumnya. Saya berusaha memintanya untuk segera meninggalkan perilaku-perilaku buruk itu.
Akibatnya?
Ia justru seolah menggoda saya dengan mengulang-ulang perilaku buruk itu agar Bundanya bereaksi.
Berdasarkan kesalahan-kesalahan saya itu, akhirnya saya berusaha menyelesaikan masalah perilaku buruk anak saya pelan-pelan. Apa yang saya lakukan:
1. Menemani anak saya bermain dengan temannya.
Jika mereka rukun, saya berusaha memuji. Jika mereka melakukan sesuatu yang buruk, saya berusaha memberikan arahan.
2. Menjadi teman main yang lebih menyenangkan bagi anak.
Secara teori, menjadi teman bermain anak adalah mudah. Tetapi bisakah kita benar-benar menyatu pada permainannya? Benar-benar menjiwai jadi seorang anak kecil lagi dan konsentrasi penuh pada permainan. Singkirkan dulu pikiran tentang tugas-tugas rumah tangga dan bisnis.
3. Menjadi lebih efisien dan efektif.
Ibu adalah manajer keluarga dengan banyak profesi menjadi satu didalamnya. Menjadi teman main anak hanyalah salah satu kegiatan yang harus dilakukan di antara 24 jam yang kita miliki. Kita tidak bisa meminta injury time jika salah me-manage-nya. So, be more efficient and effective!
Nb:
Alhamdulillah, anak saya sedikit demi sedikit mulai mengurangi perilaku buruknya. Mesti lebih sabar nih, karena ini bukan pekerjaan instan. Tampaknya butuh waktu berbulan-bulan.
Sabtu, 11 April 2009
Pengaruh Pornografi pada Otak Anak
"Aduh, Mbak. Teman anak saya yang besar (kelas 6 SD, perempuan-pen) bawa video porno di hpnya." cerita seorang teman suatu hari.
"Seluruh murid di kelas nonton semua." lanjutnya.
"Waktu saya lagi nanyain si kakak, adiknya nyeletuk, Aku sudah pernah lihat waktu kelas 1 (SD, laki-laki -pen)!"
Gubrak!!! Masya Allah!
Saya terkejut sekaligus miris. Pornografi sudah jadi konsumsi anak SD! Bahkan kelas 1 SD!
"Jadi bagaimana, Mbak?" tanya saya.
"Yah mau bagaimana lagi? Sudah telanjur" Jawab teman saya pasrah.
Pornografi pada anak usia sekolah dasar sebenarnya bukanlah berita baru. Sebelumnya di tahun 2008 Yayasan Kita dan Buah Hati sudah melakukan survey pada 1.625 siswa kelas 4-6 sekolah dasar wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi. Pada Survey ini terungkap bahwa 66 persen dari mereka telah menyaksikan materi pornografi lewat berbagai media. Sebanyak 24 persen di antaranya lewat komik, 18 persen melalui games, 16 persen lewat situs porno, 14 persen melalui film, dan sisanya melalui VCD dan DVD, telepon seluler, majalah dan koran.
Mereka umumnya menyaksikan materi pornografi itu karena iseng (27%), terbawa teman (10%), takut dibilang kuper (4%). Ternyata anak-anak itu melihat materi pornografi di rumah atau kamar pribadi (36%), rumah teman (12%), warung internet (18%), rental (3%).
Hasil survey ini sanggup membuat saya merinding.
Sebenarnya seberapa besar pengaruh pornografi terhadap otak anak?
Hari Jum'at lalu (10/04) di TVRI dalam acara Untukmu Ibu Indonesia, Dr Adre Mayza Sp.S(K) dan Ibu Elly Risman menjelaskan bahwa akibat dari pornografi pada otak anak adalah:
"Seluruh murid di kelas nonton semua." lanjutnya.
"Waktu saya lagi nanyain si kakak, adiknya nyeletuk, Aku sudah pernah lihat waktu kelas 1 (SD, laki-laki -pen)!"
Gubrak!!! Masya Allah!
Saya terkejut sekaligus miris. Pornografi sudah jadi konsumsi anak SD! Bahkan kelas 1 SD!
"Jadi bagaimana, Mbak?" tanya saya.
"Yah mau bagaimana lagi? Sudah telanjur" Jawab teman saya pasrah.
Pornografi pada anak usia sekolah dasar sebenarnya bukanlah berita baru. Sebelumnya di tahun 2008 Yayasan Kita dan Buah Hati sudah melakukan survey pada 1.625 siswa kelas 4-6 sekolah dasar wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi. Pada Survey ini terungkap bahwa 66 persen dari mereka telah menyaksikan materi pornografi lewat berbagai media. Sebanyak 24 persen di antaranya lewat komik, 18 persen melalui games, 16 persen lewat situs porno, 14 persen melalui film, dan sisanya melalui VCD dan DVD, telepon seluler, majalah dan koran.
Mereka umumnya menyaksikan materi pornografi itu karena iseng (27%), terbawa teman (10%), takut dibilang kuper (4%). Ternyata anak-anak itu melihat materi pornografi di rumah atau kamar pribadi (36%), rumah teman (12%), warung internet (18%), rental (3%).
Hasil survey ini sanggup membuat saya merinding.
Sebenarnya seberapa besar pengaruh pornografi terhadap otak anak?
Hari Jum'at lalu (10/04) di TVRI dalam acara Untukmu Ibu Indonesia, Dr Adre Mayza Sp.S(K) dan Ibu Elly Risman menjelaskan bahwa akibat dari pornografi pada otak anak adalah:
- Bagian depan otak yang mengatur gerak dan perilaku akan menyusut. Bisa berpengaruh pada berkurangnya rasa tanggung jawab.
- Neuron transmitter, yakni bagian otak yang mengontrol pada kesenangan, bekerja berlebihan. Pada saat dewasa mereka akan berperilaku hanya berdasarkan kesenangan saja, sehingga tidak dapat mengontrol dirinya.
- Ketidakmampuan mengontrol batasan perilaku, akibatnya kecendrungan untuk mudah depresi lebih besar.
- Saat dewasa anak-anak yang biasa menyaksikan pornografi hanya memandang wanita sebagai objek seksual saja.
- Ada kemungkinan melakukan kekerasan seksual dan phedophilia.
Jumat, 05 Desember 2008
Tak Ada Bendera Palestina
Menjelang Pemilu 2009, partai-partai peserta pemilu ramai-ramai menghiasi jalan-jalan dengan bendera-bendera mereka. Mulai dari ukuran standar sampai yang ekstra besar. Hampir tak ada ruas jalan yang tak berbendera. (Sungguh sebuah pesta demokrasi yang mahal!)Banyaknya bendera itu menarik perhatian anak saya, khususnya sebuah bendera ekstra besar berwarna merah. Setiap melihat bendera itu anak saya akan berseru,"Bunda, benderanya besar!". Bahkan ketika bendera itu turun menjadi setengah tiang karena tak mampu menahan hujan dan angin, anak saya memperhatikannya. Sampai akhirnya tiang benderanya patah dan bendera berganti dengan ukuran yang sedikit lebih kecil, anak saya sibuk mencari-cari dimana bendera besar itu.
Antusiasmenya pada bendera membuat saya ingin mengenalkannya pada bendera negara-negara di dunia khususnya bendera negaranya, Indonesia. mulailah kegiatan saya mencari gambar-gambar bendera di internet. Cukup banyak situs tentang bendera, mulai situs anak-anak, pemerintah sampai penjual-penjual online. Saat mencari situs-situs itu, terlintas pikiran iseng saya,"Apakah bendera Palestina dan Israel selalu ada bersamaan atau salah satunya?"
Sebuah kenyataan yang membuat hati saya sedih, di banyak situs bahkan situs yang diperuntukkan untuk anak-anak, tak ada bendera Palestina! Sedangkan bendera Israel (hampir) 100% ada! Palestina pelan-pelan berusaha dihapuskan. Peta dunia tampaknya semakin jauh berubah.
Kamis, 06 November 2008
Langgan:
Entri (Atom)