Kamis, 2008 April 10

Belajar Mengenal Anak (1)

Anak kita itu unik. Unik, tentu saja berarti berbeda dengan yang lain. Keunikan anak inilah yang membuat kita harus selalu belajar mengenalnya.

Anak kami sulit sekali makan. "Biasa...., kalau umur segitu memang susah makan. Yang penting ASI-nya masih jalan terus,' begitu sebagian komentar yang saya dengar. Agak tenang mendengarnya, tapi bagaimanapun juga anak tetap harus belajar makan karena ASI hanya sampai umur 2 tahun saja.

Berbagai makanan dan cara saya coba. Akhirnya saya dapat solusinya! Anak saya ternyata lebih suka makan sendiri daripada disuapi padahal umurnya waktu ini belum genap 1,5 tahun. Tentu saja makan sendiri di usia itu makanan yang jatuh ke lantai lebih banyak daripada yang masuk mulut. :) Tidak masalah yang penting ia mau makan.

Tiap anak memang beda ya....

Sabtu, 2008 Maret 15

Aku Hanya Butuh Telinga

Jum'at 14 Maret kemarin salah satu acara favorit saya "Untukmu Ibu Indonesia" masih membahas tentang peran ayah seperti satu minggu sebelumnya. Kali ini tema yang diangkat adalah Ayah sahabat. Bintang tamu yang hadir adalah Gifari Zaka Wali dan Fuad Baradja. Gifari yang masih berusia 14 tahun sangat lancar ketika ditanya pendapatnya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan apa yang ideal menurut anak khususnya ayah ideal.

Salah satu yang ia ceritakan yang sangat membekas di benak saya adalah mengenai seorang temannya yang mantan pecandu. Sang teman berkata "Aku sesungguhnya tak butuh apa-apa, aku hanya butuh telinga."

Hanya Telinga! Ya, anak butuh untuk didengar dan diperhatikan. Ia ingin orangtuanya mengerti dirinya dan apa yang ia rasakan. Bisakah itu kita lakukan jika menjawab pertanyaan anak sambil membaca koran, menonton televisi, atau melakukan pekerjaan lain tanpa sedikitpun memandang ke arahnya?

Semoga kita tak hanya bisa memberi telinga tapi juga pelukan kehangatan saat ia merasa rapuh. Biarkan ia merasakan bahwa kita sebagai orang tua selalu ada untuknya dalam rasa maupun nyata.

Saat 24 Jam Terasa Singkat

"Waktu ibarat pedang, barang siapa tidak dapat menggunakannya, maka akan menebas lehernya sendiri."
(Ali bin Abi Thalib)

Manajemen waktu bagi seorang ibu rumah tangga sesungguhnya adalah sebuah keharusan. Menjalani hari-hari dengan kesibukan luar biasa kadang-kadang membuat waktu cepat sekali berlalu. Sejak bangun tidur hingga tidur lagi. Bahkan di sela tidurnya pun ia kadang harus siap terjaga untuk sang anak yang ingin minum susu.

Hari-hari yang saya jalani sebagai ibu mungkin tak beda dengan ibu rumah tangga pada umumnya. Menyelesaikan pekerjaan domestik ibu rumah tangga, bermain dengan anak, up grade wawasan tentang parenting & pendidikan anak dari berbagai media, dan menjalankan usaha saya sebagai agen jilbab adalah kegiatan rutin saya. Kegiatan-kegiatan tersebut saya jalani tanpa pembantu atau karyawan. Untuk pekerjaan domestik dan bermain dengan anak -alhamdulillah- kadang-kadang suami ikut membantu jika sedang tidak bekerja.

Saat saya sedang bersama anak saja segala kegiatan saya bergantung pada anak. Jika ia ingin bundanya menemaninya main dan tidak mau diduakan dengan pekerjaan-pekerjaan saya, maka yang terjadi adalah tertundanya pekerjaan-pekerjaan itu. Bisa dibayangkan betapa kacaunya rumah saya hehehe ;). Tetapi seperti kata Ibu Elly Risman Musa jika bersama anak kita harus meninggalkan semua pekerjaan bahkan saat menyusui pun tidak boleh sambil bekerja. Wah, Bu Elly musti tanggung jawab nih karena rumah saya berantakan hehehe ;).

Menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang tertunda biasanya saya lakukan saat si kecil sudah tertidur. Jika tidak selesai, maka begadang atau bangun lebih awal adalah solusinya. Tetapi tetap saja ada yang tak selesai. Semoga suatu saat saya bisa lebih baik dalam manajemen waktu.

Senin, 2008 Januari 28

Jatuh Cinta Pada Homeschooling

Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Segala kebutuhan anak berusaha untuk didahulukan daripada kebutuhan untuk sang orang tua. Begitu juga dengan saya.

Jauh sebelum anak saya dilahirkan bahkan sebelum saya tahu kelak akan menikah dengan siapa, saya suka sekali tulisan-tulisan, talk show atau apapun yang berkaitan dengan keluarga dan sejenisnya. Dari tulisan-tulisan, talkshow di radio maupun talk show di televisi yang saya ikuti, semua mengantarkan pada satu pilihan pendidikan yang terbaik menurut pencernaan pikiran saya, Homeschooling.

Homeschooling di Indonesia saat ini sudah mulai banyak dipilih oleh orang tua di Indonesia, bahkan diantaranya adalah ahli-ahli mengenai pendidikan anak dan keluarga. Sebagai contoh adalah Seto Mulyadi, Neno Warisman, Ratna Megawangi, Septi Peni Wulandari (penemu Metode Jarimatika) dan sebagainya.

Mengapa homeschooling?

Sebenarnya banyak alasan saya untuk memilih homeschooling, tapi alasan utamanya adalah karakteristik anak saya yang sulit untuk duduk diam. Dia, menurut pengamatan saya (mudah-mudahan tidak salah), adalah tipe anak dengan kecerdasan kinestetik. Anak dengan tipe kecerdasan kinestetik adalah anak yang belajar dengan bergerak. Dengan sistem pendidikan di sekolah yang lebih banyak duduk diam tentu akan membuat anak saya kurang nyaman dan kurang maksimal.

Sekarang yang menjadi pertanyaan buat saya adalah mengenai kesanggupan saya untuk menjalankan homeschooling pada anak saya. Saat ini usia anak saya mendekati 1,5 tahun. Mudah-mudahan masih cukup waktu untuk saya mempersiapkan diri untuk itu.

Nb:

  • Mohon do'anya ya.
  • Adakah teman-teman di Balikpapan yang menerapkan homeschooling? Mohon sharingnya ya.

Selasa, 2008 Januari 22

Miracle and Happy Problem

Penjualan jilbab di "toko" kami -alhamdulillah- semakin meningkat dari bulan ke bulan. Sesuatu yang membuat saya kadang-kadang masih terheran-heran. Perputaran stok sangat cepat untuk ukuran saya yang bekerja di rumah.

Peningkatan penjualan ini membuat saya harus meningkatkan pula ketersediaan produk. Order ke pihak produsen meningkat dengan prosentase yang memuaskan. Alhamdulillah walaupun dikirim secara bertahap stok kami masih relatif cukup. Namun akhir-akhir ini stok agak tersendat khususnya warna-warna best seller. Ada apa ya? Berdasarkan informasi dari produsen, ternyata terjadi pencurian secara bertahap pada stok jilbab, kain, benang dan mesin yang terjadi di pabrik yang dilakukan oleh karyawan. Saat ini sebanyak 5 orang karyawan telah diberhentikan akibat peristiwa itu. Sebuah pelajaran untuk menjadi lebih baik.

Peningkatan penjualan ini ternyata juga membuat perubahan pada pandangan suami mengenai wirausaha :). Suami akhirnya termotivasi mempertimbangkan untuk memulai usaha sendiri. Saat ini beliau sedang mencari waktu yang tepat untuk cuti kerja.

Nb:
Mungkin ini yang disebut Take action miracle happen ya?

Jumat, 2008 Januari 18

Hari Tanpa Sendok

Beberapa hari ini sendok di rumah kami sering menganggur. Saat makan kami (saya dan suami - red) lebih memilih tidak menggunakan sendok alias langsung menggunakan tangan. Ini terjadi karena ada penggemar berat sendok yang akan mengambil sendok yang kami gunakan dengan agak memaksa!

Ya, jagoan kecil kami benar-benar tidak rela membiarkan si sendok melakukan tugasnya. Awalnya kami membiarkan kegemarannya itu karena sendok tersebut hanya digunakan untuk bermain atau di pukul-pukulkan ke meja atau lantai saja dan kami fikir sebagai sarana belajarnya. Tapi, belakangan ia mulai melakukan permainan baru yaitu menuangkan dan meratakan makanan ke atas meja bahkan ada yang terjatuh ke lantai dan tidak akan berhenti sampai makanan di piring kami habis. Ia semangat sekali melakukannya. Tentu saja kegiatannya membuat saya ketar-ketir lantaran di ruangan yang sama kadang-kadang banyak stok jilbab dagangan saya. Wah, bisa-bisa beli jilbab dapat bonus nasi kering nempel di jilbab.

Jumat, 2008 Januari 11

Sebuah Pekerjaan Cinta

"Hanya ibu rumah tangga saja", itukah jawaban bunda-bunda yang memilih bekerja dalam lingkup domestik rumah tangganya saat ditanya tentang pekerjaan? Mungkin tidak semuanya menggunakan kata "hanya", tapi saat ini lebih banyak yang menggunakan kata "hanya" tersebut. Penggunaan kata "hanya" menunjukkan perasaan kurang penting atau kurang berharga atas profesi yang dijalaninya. Mengapa Bunda? Tidakkah kau seharusnya mengatakannya dengan kepala tegak?

Ibu rumah tangga adalah sebuah profesi yang sangat kompleks. Dalam rumah tangganya ia diposisikan untuk menjadi Guru, Perawat, Koki, Cleaning Service, Tukang Pijat, Teman Main, Teman Curhat, Pelawak, Manajer Keuangan, dan mungkin masih banyak belum saya sebutkan. Segudang pekerjaan cinta yang membutuhkan sabar dan ikhlas. Pekerjaan cinta ini memang tidak diberikan kompensasi materiil atau standar upah tertentu, tetapi sesungguhnya akan sulit menentukan berapa upah seorang ibu rumah tangga dalam melakukan pekerjaan domestik. Mengukurnya dengan menjumlah gaji setara profesi-profesi yang dijalaninya tetap tak akan sama karena ada cinta dan ketulusan yang tak akan bisa didapat nominalnya.

Kebanggaan seseorang yang memutuskan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga (saja?) terhadap profesinya tersebut sesungguhnya akan meningkatkan kinerja, rasa syukur dan keikhlasannya. Jadi mohon jangan katakan "Saya hanya ibu rumah saja", Bunda.